Berita Terbaru, Biografi, Kisah Mistis, Kisah Teladan, Entertainment, Unik Lucu,Sejarah Nusantara,Myths & Legends

Loading...
loading...

Cerita Misteri : 2 Kisah Mistis Bercinta dengan Wewe Gombel dan Hantu Nakal

[kangsambas.com] Kemiskinan membuat buruh petik buah nanas ini dihina dan dilecehkan. Namun dalam waktu singkat, pria lajang ini sudah kaya dan menjadi juragan nanas setelah kenal wewe gombel. Mau tahu rahasianya ? Asalkan ada niat…

1. Kaya Mendadak Hasil Kawin dengan Wewe Gombel
Untuk menikmati kekayaan yang berlimpah, ternyata tidak hanya melalui cara pesugihan. Di kawasan Blitar, Jawa Timur dan sekitarnya, beberapa pria lajang membina rumah tangga dengan wewe gombel sebagai jalan untuk menjadi kaya mendadak. Bukan itu saja, sebagai jomblo dia bisa menikmati kehidupan seeks bebas bersama perempuan makluk halus yang bisa menjelma menjadi wanita yang sangat cantik.

Bagi masyarakat setempat, wewe gombel atau biasa disebut wewe adalah salah satu jenis makluk halus yang bertampang cukup menjijiknya. Dia berwujud perempuan dekil dan mempunyai bau badan yang tidak sedap. Kulit tubuhnya berkeriput seperti kulit manula dan paayudaranya memanjang sampai ke pusar. Biasanya dia memakai baju kebaya lusuh untuk menutupi paayudaranya. Makluk ini biasa ditemui di kawasan sungai, sawah, gunung, atau dikitar sumber mata air.

Wewe Gombel

Namun bagi mereka yang sudah mempunyai tekat bulat untuk memperoleh kekayaan, perwujudan wewe yang seperti itu tidak membuat mereka bergidik atau jijik. Bahkan sebaliknya, mereka akan menyayangi dan mengawini makluk ini seperti layaknya seorang lelaki mengawini perempuan biasa.
Sebut saja Bagas ( 40) warga Blitar, Jawa Timur, yang telah membulatkan tekatnya untuk hidup serumah dengan wewe gombel pilihannya. Hal tersebut dia lakukan demi keluar dari kemiskinan yang membelit keluarganya sejak dia masih kecil.

Sekarang, dia telah menjadi salah satu juragan buah nanas yang cukup disegani dikalangan petani nanas dikawasan lereng selatan Gunung Kelud, Jawa Timur. Tidak hanya kaya, lelaki ini juga dikenal sebagai orang sangat dermawan dan dikenal baik dengan tetangga. Sayangnya, sebagai orang yang cukup berada dia belum mempunyai istri. Menurut masyarakat sekitar, Bagas tidak mau kawin lantaran trauma karena pernah disakiti mantan pacarnya

Sebagai orang kaya, sebenarnya Bagas bisa dengan mudah mendapatkan wanita sesuai dengan apa keinginannya. Namun bagi Bagas, hari-hari dia isi dengan bekerja memajukan usahanya atau sekali-kali melancong ke Bali atau ke Jakarta dengan beberapa karyawannya.

Bayangkan, dalam seminggu saja dia mampu mengkulak delapan truk nanas dari para petani yang ada diberbagai daerah.Dalam pamasarannya, Bagas mengirim nanas-nanas tersebut dalam dua arah kota tujuan. Empat truk untuk dikirim kearah Denpasar, Bali sedangkan empat truk lainnya ke Jakarta dan sekitarnya.

Nilai keuntungan dari satu truk mencapai Rp 20 juta. Nanas ukuran A dan B dia borong dari para petani seharga Rp 20 juta. Sementara dia jual ke kota-kota besar dengan harga Rp 50 juta. “Kalau masuk ke pabrik di Jakarta, satu truknya sekitar Rp 40 jutaan. Ya…untung sedikit tidak apa-apa yang penting saya dan karyawan saya bisa dapat nafkah,” ungkap Bagas merendah meskipun mempunyai pendapat berminggu mencapai Rp 160 juta.

Dirumahnya yang sederhana bagi ukuran seorang juragan nanas, Bagas dengan rendah hati mencoba berbagai cerita tentang kisah hidupnya yang dramatis tersebut. Tepatnya disebuah desa, dilereng selatan Gunung Kelud, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, lelaki ramah ini mempunyai masa kecil yang cukup mengenaskan.

Mulanya, Bagas kecil adalah seorang anak yang kurang beruntung. Ayahnya meninggal sejak dia berumur 5 tahun. Sebagai anak seorang janda miskin Bagas tidak bisa mengenyam bangku sekolah. Karena ibunya mulai sakit-sakitan, sejak umur delapan tahun, Bagas sudah ikut pamannya bekerja sebagai buruh pemetik buah nanas.

“Wah…Pertama kali kerja di kebun nanas badan saya gatel semua kena duri daunnya. Pada malam harinya, badan saya menggigil demam. Ibu sampai menangisi kondisi saya, tapi ya bagaimana lagi, namanya juga orang susah. Kalau nggak kerja trus makana dari mana ? Tapi besuk paginya, saya pergi kekebun untuk bekerja,” ungkap Bagas mengingat masa kecilnya yang memilukan.

Begitulah hari demi hari yang dijalani Bagas kecil sebagai buruh pemetik buah nanas. “Waktu umur sepuluh tahun saya disekolahkan oleh pak lurah mulai SD sampai SMA. Lumayan akhirnya bisa baca tulis dan punya teman banyak,” imbuhnya sambil tersenyum.

Saat sekolah, dia berkerja dikebun nanas hanya mulai siang sepulang sekolah sampai sore saja. “Saya tidak melanjutkan kuliah, karena pak lurah sakit dan meninggal. Jadi ya sudah, saya akhirnya kembali ke kebun nanas lagi,” tuturnya.

Lulus SMA, hati Bagas terpikat oleh seorang gadis tetanggga desa. Sayangnya si gadis menolak cinta bocah malang ini dengan mentah-mentah. “Sejak itu saja sedih setengah mati, saya diolok-olok oleh gadis yang saya cintai itu. Bahkan teman-temannya ikut mengolok-olok saya. Memang sih…saya ini kan ornag miskin, jadi ya saya yang tidak tahu diri, la wong gadis itu anaknya orang kaya didesa sebelah kok,” imbuh penggemar mobil pajero ini tersenyum mengenang kisah cintanya yang patah, setragis nasibnya tersebut.

Sejak itulah Bagas mulai malas bekerja di kebun nanas. Setiap hari dia pergi ke lokasi wisata Candi Penataran dengan maksud menghibur diri sambil mekimati pemandangan dan suasana tempat wisata. Candi yang berada di Desa Nglegok, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur tersebut memang selalu ramai oleh pengunjung. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu sering digelar pentas musik yang bertempat di dihalaman parker sebelas utara.

Namun sayangnya, Bagas yang mulai menjadi seorang anak remaja ini tidak pernah menghiraukan semaraknya pentas music tersebut. Anak baru gede ini telah menikmati patah hatinya setelah ditolak oleh wanita yang jadi indaman hatinya.

“Setiap hari saya ke candi untuk menghibur diri dan bermain-main air di mata air sebelah belakang candi,” ujarnya sambil sesekali membalas beberapa pesan singkat yang masuk di HP buatan Amerika miliknya.

Sampai suatu hari, Bagas bertemu dengan seoarang perempuan yang sedang berendam di mata air tempat dia menghibur dirinya. “Sejak saat itu saya bertemu dengan wewe wanita. Mulanya saya takut, karena badanya dekit dan bau, terus kulitnya berkeriput dan payuudaranya panjang sampai kepusarnya. Tapi akhirnya kami berteman berteman baik karena setiap sore kita bertemu di mata air belakang candi. Saya memanggilnya Mbak Sarmi dan dia suka saya panggil dengan nama itu,” ungkapnya.

Bagas mengakui, kalau kesuksesan dan kelancaran usahanya selama ini tidak lepas dari bantuan wewe wanita dari mata air Candi Penataran. Seperti diketahui, mulanya Bagas yang hanya seorang buruh petik buah nanas, sampai sekarang menjadi juragan nanas, adalah berkat bantuan Mbak Sarmi, wewe gobel temannya.

Namun Bagas menolak kalau dia dibilang kawin dengan wewe. Lelaki ramah penyuka rokok kretek berlebel kuning ini, lebih suka menyebut wewe gombel tersebut sebagai temanya. Bahkan Bagas mengelak kalau dia biasa berseetubuh dengan wewe gombel temannya itu.

”Mungkin bagi orang lain, berteman dengan makluk halus dipandang sebagai hal yang tidak masuk akal. Tapi ini kenyataan hidup yang saya alami sendiri. Mbak Sarmi sering kesini lo. Kadang dia suka mengajak saya bergurau. Kalau datang, kadang dia berubah wujud menjadi wanita yang sangat cantik. Tapi saya hafal sama bau badannya,” imbuhnya sambil tersenyum.

Sebagai ucapan terimaksihnya kepada Mbak Sarmi, Bagas membuat sebuah kamar khusus disebelah kamar tidurnya untuk wewe gombel tersebut. Bukan itu saja, pada hari Kamis malam pasaran Legi, dikamar tersebut juga disedikan bunga tiga warna alias kembang telon sebagai bunga kegemaran Mbak Sarmi. Juga perlengkapan kosmetik seperti yang dimiliki oleh para wanita pada umumnya.

Sebenarnya bila ditelusuri lagi, dikawasan Blitar dan sekitarnya masih terdapat banyak lelaki yang hidup serumah dengan Wewe Gombel. Tujuannya tidak lain untuk mendapat kekayaan dan hubungan seeks bebas yang tidak beresiko. Bahkan diantara mereka ada yang sampai mempunyai anak.

Keberadaan praktik peerkawinan antara manusia dengan makluk lelembut ternyata dibenarkan oleh Mbak Sentot (65). Orang pinter dari Kecamatan Ludoyo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini mengatakan, “makluk lelembut sebenarnya bisa saja menjalin hubungan dengan manusia selama diantara mereka tidak merasa saling dirugikan dan bahakn saling diuntungkan.”

Terkait sebuah pesugihan yang didasari oleh bantuan wewe gombel, Mbah Sentot dengan tegas mengatakan bisa. “Dikawasan Blitar, Kediri dan Tulungagung ini banyak sekali wewe gombelnya. Mereka hidup seperti manusia umunya. Mereka berkeluarga dan mempunyai kekayaan juga lo,” imbuh lelaki tua ini sambil menghisap rokok kretek kesukaannya.

Jadi, kalau ada orang yang menjalani pesugihan wewe, menurut Mbah Sentot, itu sah-sah saja. Dan malah jauh lebih aman dibanding pesugihan dari jin dan makluk halus jenis lainnya. Menurut Mbah Sentot, wewe gombel tidak butuh tumbal.

“Tapi mereka hanya butuh bisa bergaul dengan manusia laki-laki yang dia sukai. Kemudian mereka akan menjalin huubungan suami istri. Bila hal seperti itu terjadi maka apa yang diminta manusia laki-laki tersebut akan dia kasih. Terutama harta, wewe dengan senang hati akan memberikan sebagian kekayaannya yang berupa emas untuk lelaki yang mau tidur dengan dirinya. Jadi kekayaan atau pesugihan yang didapat dari wewe itu adalah sebuah pemberian sebagai bentuk terimakasih dan tidak ada tumbal,” ungkap Mbah Sentot yang mengaku juga pernah mempunyai teman dekat seorang wewe.

Saat menjalani hubungan pertemanan dengan sosok wewe, Mbak Sentot tidak sampai pada hubungan yang serius. “Istri saya tahu kalau wewe teman saya itu sering datang kerumah dari bau tidak sedap yang jadi cirikhas makluk lelembut ini. Mulai saat itu istri saya marah-marah dan minta cerai kalau saya meneruskan hubungan dengan wewe itu,” imbuhnya sambil tersenyum.

Lantas bagaiamana cara menjalin hubungan dengan wewe? Mbah Sentot mengatakan, sebenarnya wewe sendiri ketika bertemu dengan manusia adalah dalam posisi kebetulan, seperti halnya ketika manusia bertemu dengan wewe.

“Tapi kita bisa berburu kok. Wewe biasanya suka disumber mata air, sungai, gunung dan ditempat-tempat sejuk. Kadang pada siang hari bolong, wewe suka ke sumber air untuk mencuci pakainnya. Kalau sudah ketemu, jangan sekali-kali terlihat takut atau kaget, sebab wewe akan lari, karena sebenarnya mereka juga takut dengan manusia,” imbuhnya.

Bila sudah bertemu, Mbah Sentot mengajurkan untuk tenang dan bertingkah biasa saja. Setelah wewe menyelesaikan akan yang sedang dia kerjakan, biarkan sampai selesai dan biarkan wewe itu pergi dengan sendirinya.

“Nah, pada hari dan jam yang sama wewe akan kembali ketempat itu. Sekali lagi biarkan wewe itu dan ulangai beberapa kali. Bila sudah tiga atau empat kali ketemu wewe itu akan bisa diajak ngomong,” tutur lelaki berambut putih ini menjelaskan.

Bila hubungan pertemanan dengan wewe mulai muncul, maka upaya untuk menjdai kaya mendadak sangat mudah. Tinggal manusianya berani atau tidak menjalin huubungan dengan makluk berbau badan tidak sedap tersebut.

Mengenal wewe bagi orang awam ternyata harus hati-hati. Sebab wewe ini suka mencuri anak-anak. Anak yang dicuri biasanya mereka yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Wewe biasanya hanya akan menakut-nakuti orang tua si anak agar merasa kehilangan sampai orang tua tersebut kebingunan mencari anaknya. Setelah itu wewe akan mengembalikan sia anak orang tuanya.

“Biasanya, anak yang diculik wewe akan diberi makan seadanya, bisa kepiting sungai atau siput sawah. Tapi yang jelas, wewe ini secara umum tidak berbahaya, hanya saja manusia sering kaget dan jijik dengan penampilan wujudnya,” pungkas Mbah Sentot. (pra)


2. Cerita Mistis Riadi Berciinta Dengan Hantu Nakal
Pada Pertengahan bulan Februari lalu bertepatan bulan purnama terang benderang. Riadi masih ingat betul kejadian yang membuatnya masih bergidik-gidik jika tidur sendirian. Di malam yang biasa diluangkan orang-orang tertentuk untuk melakukan ritual penyucian diri itu, Riadi mengalami kejadian mengerikan. Dia tidur seranjang dengan wanita siluman.

Kisah ini masih membekas lekat di benak pemuda yang kini tinggal di sebuah kelurahan di Salatiga, Jawa Tengah. Kejadian itu dia rasakan seperti teror dalam hidupnya, terutama dia merasakan ketakutan yang luar biasa setiap tidur sendirian. Dia bergidik hebat. Bayangan wanita berkulit putih, halus, dan berbau wangi itu seakan-akan masih terus mengintainya.

Dia sendiri masih bujang, bertubuh tegap dan terlihat sangat jantan. Selama ini belum pernah ada wanita yang menjamah bagian-bagian seensitif tuubuhnya. Kalaupun berdekatan dengan pasangan lain jenis, Riadi –bukan nama sebenarnya— sebatas pacaran, tapi tidak pernah serius. Paling-paling dia selami hatinya, perasaannya, setelah itu dia merasa enggan berhubungan lagi.

Ujung-ujungnya, pemuda lulusan PTS swasta di Salatiga ini mencari pengganti wanita lain, untuk kembali sekedar menyinggahi. Boleh dikata kebiasaan Riadi sama seperti dilakukan lelaki yang mendapat julukan play boy! Mungkin karena itu, Riadi mendapatkan pelajaran dari lelembut wanita yang sengaja mengajaknya bercinta itu.

Kejadian malam itu kembali terekam dalam ingatannya. Sekujur tubuh Riadi tiba-tiba keluar keringat dingin, buluk kuduknya tegak berdiri seperti dia kembali berhadapan dengan lelembut yang diperkirakan tinggal di salah satu pohon besar yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Pada malam itu, dia tidur sendirian di kamar paviliun keluarga.


Letaknya berada di samping kiri rumahnya, terpisah dari rumah induk. Sudah sebagai kebiasaan setiap tidur dia tidak pernah memakai piyama atau pakaian tidur. Hanya mengenakan celana dalam. Itu pun ruang kamar tidurnya selalu tanpa lampu penerangan, semua dimatikan. Seperti ada perasaan lain yang menggelayuti pikirannya, malam itu Riadi ingin sekali cepat tidur.

Padahal, baru saja lepas pukul 21.00 WIB, tidak seperti biasanya ia ingin tidur sekitar pertengahan malam itu. Sebelum masuk paviliun Riadi masih sempat menengadakan kepala beberapa saat ke atas langit. Dia tersenyum kecil menyaksikan bulan purnama malam itu putih bersih, tanpa ada saputan awan.

Sampai di paviliun dia langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Tidak lupa mematikan lampu. Satu per satu pakaiannya dilucuti hingga tinggal celana dalam saja. Sebelum memajamkan mata rapat-rapat, sayup-sayup terdengar suara televisi yang menayangkan sinetron kesukaan kakakanya. Seisi ruang kamar terlihat hitam pekat. Cuma sedikit semburat sinar bulan yang menembus gorden jendela kamar. Udara dingin Salatiga malam itu cepat-cepat mengantar dalam kelelapan.

Sebelum dia terlelap tiba-tiba merasakan suhu dalam kamarnya terasa turun drastis, sehingga sangat dingin sekali. Gaun gorden jendela terlihat berkibar kibar, terasa ada angin besar yang meniup gorden berwarna putih itu. Meliuk-liuk seperti melambai-lambai. Riadi terkesiap kaget, sesaat itu dia terbengong-bengong, bingung, bercampur menerka sesuatu yang menyebabkan ruang kamarnya terasa aneh.

Dia ingat betul grendel jendela sudah dia kunci. Rasanya tidak mungkin bisa terbuka sendiri. Angin dingin yang merasuki pangkal tulangnya terasa semakin menusuk. Padahal, purnama di luar masih dengan sinarnya yang cerah. Sebelum Riadi beranjak ke arah gorden, dia melihat sesosok wanita bergaun putih. Seorang gadis cantik dengan rambut yang panjang terurai.

Rambut yang panjang, lurus, sangat tertata rapi. Wanita itu hanya tersenyum melihat Riadi yang terpekik dalam ketakutannya. Gerak tubuh wanita itu sangat ringan sekali, berlahan mendekat ke arah tempat tidur Riadi. Kembali wanita misterius itu melempar senyum, perasaan jantung Riadi benar-benar seperti terhenti. Wanita itu seperti menghipnotisnya.

Dan, dengan usapan lembut Riadi yang masih domblong di atas tempat tidur direbahkan. Pipinya diusap dengan tenang. Aroma wangi tubuh wanita itu menggelorakan biirahi kelakian Riadi. Tanpa dia minta mendadak si wanita dengan beraninya menindih tubuh Riadi. Memeluknya erat-erat, sambil kedua bagian atas bibirnya tidak henti bergantian melumat bibir Riadi. Membuat lelaki lulusan DIII itu tak bereaksi apa-apa. Hanya nafasnya yang terseenggal-seenggal menahan biirahi yang menggumpal dalam dada dan konaaknya. Langutan asmara wanita itu akhirnya melambungkan kenikmatan tersendiri. Hingga membuat Riadi lupa diri, lalu sepertinya tertidur pulas.

Baru pagi harinya dia terbelalak hebat saat terjaga dari tidurnya. Dia mendapati tidak ada siapa-siapa dalam kamarnya. Hanya seprei kasurnya acak-acakan, kumal seperti terkena keringat semalam bercampur gumpalan cairan keental yang masih memel. Lebih-lebih ketika dia mengaca dibuat kaget bukan kepalang. Sekujur tubuhnya penuh dengan cuupangan (kecupan). Cuupangan siapa… ?!!!, pekiknya

Teka-teki itu baru terjawab setelah dia berkonsultasi dengan orang pinter. Dugannya ternyata benar wanita itu lelembut yang tinggal di sekitar pekarangan rumahnya. Dikatannya, wanita itu sebangsa peri atau wanita siluman yang suka menggoda lelaki bujangan. Namun, akibat kejadian tersebut Riadi sejak itu tiap tidur di paviliun selalu mengajak teman-temannya. Dia tidak pernah lagi berani tidur sendiri.

Nah Begitulah dua cerita yang mengisahkan pengalaman mistis mereka masing masing.

Sumber / Penulis : para blogger ganteng nan pintar..

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
0 Komentar untuk "Cerita Misteri : 2 Kisah Mistis Bercinta dengan Wewe Gombel dan Hantu Nakal"

Loading...
Loading...