Berita Terbaru, Biografi, Kisah Mistis, Kisah Teladan, Entertainment, Unik Lucu,Sejarah Nusantara,Myths & Legends

Loading...
loading...

Cerita Seram : Keperawanan Dewi jadi Sasaran Jin Peliharaan Majikan

[kangsambas.com] Cerita serem ini datang dari seorang wanita bernama dewi, cerita ini bener-bener membuat saya merinding karena memang cerita kali ini bener-bener serem, nyata dan dramatis.

Beberapa minggu setelah bekerja di pabrik roti itu aku mendapatkan tugas khusus menyiapkan sesaji di rumah Direktur. Dari sinilah pengalaman mengerikan itu terjadi menimpaku. . . . . .
Aku melonjak – lonjak kegirangan, ketika membaca isi sampul berwarna cokelat itu. Panggilan kerja yang lama kudambakan kini ada di tanganku. Karena gembiranya, samapi – sampai orang tuaku pun mengadakan syukuran sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan, karena aku mendapatan pekerjaan . meski hanya di sebuah pabrik roti, namun pautu kusyukuri terlebih hanya berbekal ijazah SMU. Teap aku merasa menyesal, jika panggilan kerja itu dikaitkan dengan wajahku, yang kata banyak orang diterima kerja karena aku gadis cantik.

wanita dan jin

Ya, tudingan itu sangat menyakitkan karena kenyataannya aku harus bersaing dengan ketat bersama dua ratus pelamar lain dan hanya sekitar sepuluh orang yang diterima,termasuk diriku. Tapi yang menganjal perasaanku, saat aku wawancara dulu, tim penguji samapi menanyakan masalah yang sangat pribadi yakni tentang kegadisan segala. Bukankah hal itu tidak ada relevasinya dengan pekerjaan yang akan aku tangani kelak? Aneh , memang!

“ Apakah anda masih suci? Maksud saya masih perawan?” begitu Tanya salah satu tim penguji.
“ Apakah kaitanya pertanyaan bapak dengan pekerjaan yang akan diberikan kepada saya?” tangkasku.
“ Ya, ada,” katanya.
“ Kalau ada, saya katakana dengan sejujurnya bahwa saya masih suci!” tegasku, meski agak risih dengan pertanyaan yang terkesan vulgar itu. Tapi kini ganjalan itu terasa sirna, tenggelam dalam kegembiraanku.
Aku benar – benar bahagia. Dengan sebongkah harapan, aku masuki ruangan direktur yang akan membagi tugas kami pagi itu. Aku mendapatkan antrean yang terakhir.
“ Saudari bernama Dewi?” Tanya Pak Direktur.
“ Ya, Pak!” jawabku penuh hormat.
“ Anda kami tempatkan di bagian khusus selama tiga bulan. Ini sebagai training anda,” Ujarnya.
“ Dibagian apa, Pak?”
“ Sementara membantu keperluan Direktur, baik dikantor maupun dirumah,” jelasnya yang membuatku agak penasaran, tapi akau tiadak mungkin menolak tugas itu.
Aku baru tahu, ternyata tugas Direktur sangat sibuk. Selama di kantor aku membantu sekretaris Direktur, tapi yang membuatku agak keheranan jika Kamis, tepatnya malam Jum’at, ada tugas tambahan untukku yaitu meletakkan sesaji di ruang khusus yang ada di belakang rumah mewah milik sang Direktur.

Ruang iru berbentuk Joglo, agak menyendiri. Banyak pohon – pohon rindang di tempat itu, sehingga cukup asri. Tapi ketika aku masuk dalam gedung itu, aku benar – benar tertegun. Betapa tidak, karena di dalamnya terdapat kolam renag yang berair jernih. Juga patung perunggu dari yang kecila samapai yang terbesar setinggi satu meter. Selain itu ada sebuah altar seolah tempat persembahan (sesaji) karena dikelilingi lilin – lilin dan puluhan hio (dupa cina) yang terus mengepul.

Benar – benar tempat aneh, tetapi ketika kutanyakan pada beberapa pembantu dirumah itu, rata – rata mereka Cuma angkat bahu. Rasa penasaranku kian menjadi – jadi setelah Pak Darmo, orang tua yang biasa membersihkan taman di tempat itu pesan wanti – wanti agar aku hati- hati memasuki ruang itu.
Pada malam Jum’at berikutnya, sebagaimana biasa aku mengambil sesaji di dapur. Sesaji itu terdiri dari berbagai makanan, buah-buahan, bunga setaman, berbagai minyak wangi, lilin berwarna – warni dan puluhan hio. Lilin – lilin itu harus kunyalakan untuk mengganti lilin sebelumnya, begitu pula hio yang ada. Seraya akupun meletakkan ragam sesaji itu tepat ditengah altar.

Begitu memasuki ruangan itu, bulu kuduku merinding. Aroma dupa dan wewangian seakan menyentuh kalbu, terlebih dengan patung – patung perunggu itu seakan – akan menjadi makluk hidup yang mengawasi gerak – gerikku. Berkali – kali aku menghidupkan korek api, namun berkali – kali pula dihembus angin.

Pancuran air di kolam itu terdengar gemercik menambah senyapnya suasana hati. Malam itu benar – benar menyembulkan aura mistis yang kental dalam dadaku. Sedianya aku ingin bergegas menyelesaikan tugas rutin malam Jum’at itu, tapi entah mengapa aku ingin membuka ruang kecil bergordin yang ada di belakang arca perunggu besar itu.

Akupun melangkah maju. Degup jantung berpacu, karena ingin tahu benda apa yang ada di dalamnya. Perlahan lahan jemariku menguak gordin itu, dan aku tersentak,kaget setengah mati, karena tiba – tiba dari situberhembus asap. Asap – asap itu berulung – gulung mendekatiku. Aku berlari ke pintu. Tapi untuk kesekian kalinya aku tersikap lantaran pintu itu telah terkunci dengan sendirinya.

Tolooong. . . Tolooong . . . buka pintunya! Tolooong . . . buka pintunya . . .!?” aku teriak – teriak histeris sambil mengedor – gedor daun pintu ruangan aneh itu.
“ Huahahahaa. . . . hahahaaa. . . .!
” sebuah tawa berkepanjagan sekonyong – konyong bergema, dan ketika aku menoleh, astaga, makhluk tinggi besar telah berdiri ditengah – tengah kolam renang menyerupai manusia, bedanya ia mempunyai ekor dan bentuk mulutnya membujur ke atas, bertelinga runcing mirip telinga seekor keledai.

Makhluk itu terus – menerus tertawa – tawa menyakitkan telingaku. Aku menggigil ketakutan, tak kala makhluk itu melintas dari kolam berjalan ke arahku. Aku menggit bibir, memejamkan mata erat – erat karena makhluk itu telanjang bulat. Sulit kuceritakan bagaimana rupa auratnya itu. Yang pasti, dia benar – benar bugil.

“ Jangan takut, anak manusia, aku tidak akan menyakitimu!” katanya dengan suara mengeleggar.
“ Si . . . siapa . . . ka. . . . kamu?” Tanya ku terbata – bata.
“ Aku jin penjaga pabrik roti ini.
Mari . . . . kemari, aku ingin menyentuh tubuhmu! Huahaaaa . . . . haaa . . . .!”
“ Tidak, Enyalah dari hadapanku!” teriakku lantang.

Makhluk itu kembali tertawa panjang. Setelah itu dengan gerakkan cepat dia langsung menerkamku. Aku kaget setengah mati. Ingin rasanya aku segera lari, tapi dengan kekuatan gaibnya dia membuat aku lunglai. Tak berdaya. Tubuhku tergolek di altar itu.
Hebatnya, dengan sekali tiup, seluruh busana yang aku kenakan terlepas berterbangan dan aku benar – benar polos. Makhluk itu menggeram begitu melihat tubuhku yang mulus. Lidahku terasa kelu, tak mampu lagi bersuara. Sekujur tubuhku pun serasa sangat lemas seolah seluruh tulangku copot dari persendian.

Kemudian tangan jin itu meraba lenganku, leherku, pusarku, pahaku, aku mengelinjang kegelian karena dipenuhi bulu – bulu disekujur kulitnya. Antara sadar dan tidak, aku benar – benar pasrah. Jin itupun menciumiku, menjilati tubuhku sampai bagian tubuhku yang paling sensitife pun tidak lepas dari jilatan lidahnya yang panas membara itu.

Tentu saja, aku mengeliat – geliat bak cacing kepanasan, tetapi aneh, diam – diam kuakui aku terangsang oleh ciuman dan jilatan makhluk gaib itu. Bahkan aku pun membalas ciumanya. Naluri kewanitaanku bangkit, birahiku menggelora, aku menjerit – njerit merintih – rintih takkala dua bukit di dadaku dipermaninkan dengan ujung lidahnya yang bergetar lincah itu.

Berikutnya, kedua kakiku direntangkan. Aku pasrah, bahkan memudahkaknnya dengan nafas memburu. Ia pun mulai meniduriku. Terasa ada benda keras mendesak – ndesak dibarengi rasa nyeri di organ intimku, tapi lama – lama ada kenikmatan yang melambungkan anganku. Aku kian histeris takkala makhluk jahanam itu mengoyangku, meremas – remasku, mencengkramku dengan beringas.
Beberapa kali aku melenguh panjang, tubuhku mengejang, seluruh badankumengeletar hebat, aku berada dipuncak kenikmatan. Klimaks pun kucapai bersamaan dengan jin penjaga toko roti itu.
Selebihnya aku tak tau apa- apa lagi. Entah sudah berapa lama aku pingsan, tetapi setelah siuman pakaianku sudah rapi seperti semula. Aku bergegas bangkit dari altar, meloncat dan berlari keluar karena pintu itu telah terbuka lagi.

Aku berlari dan terus berlari melewati perumahan Direktur, dan pos penjagaan Satpam. Aku tak menghiraukannya takkala dua orang satpam mengerutuku. Setibanya dirumah, aku langsung masuk kamar, mengunci diri. Untunglah, keluargaku tak ada yang menghiraukan aku. Semalaman aku menangis, menyesali pengalaman gaib yang sangat mengerikan itu.

Esoknya, aku tidak masuk kerja. Bahkan kutulis surat pada pak Direktur, bahwa aku mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai karyawan pabrik roti.

Satu yang kini ada dibenakku, masih sucikah diriku? Masih perawankah aku? Tekanan pertanyaan itu masih terniang – niang di benakku, hingga dengan nekad aku memeriksakan diri ke dokter spesialis kebidanan. Apa yang ku peroleh?

“ Anda masih suci kok, Mbak. Selaput dara anda masih utuh, ada apa sih, sebenarnya?” Tanya dokte yang memeriksaku.

Dengan kikuk kucari sebuah alas an bahwa aku pernah mengalami kecelakaan saat berolahraga. Aku katakan ada bercak darah di celana dalamku, hingga aku khawatir keperawananku telah hilang.
Dokter itu tersenyum. Ada kelegaan yang prima didadaku. Ternyata kejadian itu hanya pengalaman gaib saja, dan aku asih utuh seperti dulu. Tapi pengalaman itu tak mungkin dapat sampai kapanpun, bahkan kini setelah akusudah menjadi ibu dari orang arang anakku dan menjadi istri dari Mas Pras, suami yang sangat aku cintai. Saat aku menceritakan pengalamanku ini kepada Mas Pras, ia sangat terlihat cemburu.

Demikianlah kisah nyata yang aku alami. Semoga cerita seremini dapat membuka pikiran pembaca bahwa makhluk halus yang perwujudannya serem itu memang bisa mengintervensi kehidupan manusia yang berbeda alam dengannya. Demikian cerita kali ini terimakasih..

Sumber / Penulis : Grup Cerita Horor di Notes FB #Joe

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
0 Komentar untuk "Cerita Seram : Keperawanan Dewi jadi Sasaran Jin Peliharaan Majikan"

Loading...
Loading...